Skip to content

Ilmu Sedekah dan Titik Balik Seorang Mulyadi Hadapi Cobaan Hidup

Mulyadi muda bersama Prabowo
Mulyadi muda bersama Prabowo

Jumat sore di bulan September. Wajahnya tampak lusuh. Melangkah tanpa arah keluar dari sebuah bank di Jakarta Pusat. Mulyadi, di ambang kebangkrutan. Seluruh aset-asetnya akan disita pekan depan.

Hari itu menjadi hari terkelam dalam hidup Mulyadi. Biasanya, dia ditemani sopir dengan mobil mewah kemana-mana. Kini yang bisa dilakukan hanya menaiki bus Transjakarta dengan uang hanya tinggal beberapa ribu rupiah saja.

“Jumat itu, saya diminta pihak bank untuk segera kooperatif atas kedatangan kantor pelelangan bahwa Senin atau Selasa akan datang untuk menyita aset saya. Kantor pelelangan tersebut akan mencoba menyelesaikan masalah saya dengan konsep dilelang,” ujar Mulyadi, pria kelahiran November tahun 1970 tersebut.

Di dalam armada Transjakarta, Mulyadi harus merasakan berdesak-desakan dengan penumpang lain. Tidak ada minuman dingin di dalam mobil mewahnya. Tidak ada lagi pegawai yang membawakan tasnya. Rambutnya berantakan. Keringat mengucur deras. Pikirannya hanya satu. Bagaimana bisa menghadapi kebangkrutan yang sudah tinggal menghitung hari.

“Akhirnya saya naik Busway karena itu kendaraan yang saya lihat berlalu lalang. Pertama kali saya naik bis ya itu dari depan hotel Mandarin menuju Al-Azhar. Saya shalat Maghrib di situ saya lihat dan mendengar publikasi dari pengurus masjid tentang adanya tausiah,” tambah Mul, begitu sapaan akrabnya.

Sebelum menghadapi kesulitan ini, Mulyadi bukan orang sembarangan. Posisi terakhir yang dijabatnya adalah Direktur Utama PT Zebra Nusantara TBk, perusahaan transportasi terbesar di kota Surabaya. Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Steady Safe Tbk.

Dengan hati dan pikiran yang penuh kegelisahan. Mulyadi akhirnya memilih untuk tidak langsung pulang. Dia tahu betul. Kepada siapa harus mengadu. Mulyadi pun memutuskan beriktikaf di Masjid Agung Al-Azhar hingga waktu Isya tiba.

Setelah shalat Isya berjamaah, Mulyadi mengikuti pengajian yang malam itu hadir Ustaz Yusuf Mansur sebagai penceramah. Dakwah malam itu sangat menyentuh hati Mulyadi.

“Saya terkejut, ketika dalam tausiyah mengatakan, ‘Mungkin di antara jamaah yang hadir di sini adalah orang yang tidak sama sekali berniat untuk datang ke Al Azhar bahkan mendengarkan tausiyah dari saya. Tapi, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa,” ungkap Mulyadi menirukan ucapan Ustaz Yusuf Mansur.

Dalam dakwahnya, Ustaz Yusuf Mansur mengatakan bagaimana cara mengatasi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah. Caranya adalah dengan bersedekah, dan lebih utama adalah menyedekahkan harta benda yang paling dicintainya. Tanpa pikir panjang, Mulyadi pun mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari yang melingkar di tangannya seharga USD 3.000 untuk disedekahkan.

Jam tersebut adalah kesayangannya kala itu. Namun dia sangat yakin. Jika hartanya disedekahkan, maka Allah SWT akan membalas dengan kebaikan berkali lipat jumlahnya.

“Waktu itu, yang paling berharga hanya jam tangan karena di dompet hanya ada uang Rp 110 ribu. ATM saldonya sudah sangat minimum, Kartu Kredit sudah over limit. Waktu itu saya pikir kalau saya sedekahkan Rp100 ribu uang saya tinggal Rp10 ribu,” kata Mulyadi yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI tersebut.

Saat dilelang, jam itu dibeli oleh seorang jamaah hanya seharga Rp200 ribu. Padahal harganya apabila dirupiahkan setara dengan Rp30 jutaan.
Benar saja, sepulang dari masjid Mulyadi merasa enteng. Ia berada di puncak kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Ia siap untuk menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset yang dimilikinya. Karena saat itu, utangnya mencapai Rp3 Milyar.

Di sinilah pertolongan Allah SWT datang. Saat hambanya sedang benar-benar pasrah. Tak lama kemudian, telepon Mulyadi berdering. Suara telepon di seberang sana menanyakan proposalnya yang dulu.

Jauh sebelum krisis, Mulyadi pernah menawarkan proposal kepada perusahaan besar. Pertolongan Allah SWT datang dari pihak-pihak yang tak pernah diduga.

“Allah menggerakkan hatinya untuk mengakomodasi proposal saya,” kisahnya penuh suka cita.

Hanya berselang dua hari setelah menyedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekannya bersamaan dengan rencana eksekusi lelang. Mereka sepakat bekerja sama.

Tak sampai seminggu, ia sudah meneken surat perjanjian kerja sama. Uang muka honorarium segera dikirim ke rekening, begitu kata mereka. Di hari batas terakhir ia harus melunasi utangnya, ia pergi ke bank.

“Subhanallah, sudah ada jumlah uang yang sangat lebih dari cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban saya,” jelas Mul.

“Inilah pengalaman batin yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Apa yang kita sangka, tak selalu seperti itu yang Allah kehendaki,” tambah Mul.

Ia pun teringat, boleh jadi, keajaiban itu datang karena sebelumnya ia berikhtiar, berdoa tanpa putus, ibadah puasa Senin-Kamis, shalat dhuha setiap hari, iktikaf di masjid, dan selalu mendoakan orang tua.

Mulyadi bersyukur Allah memberinya kesulitan hidup, karena itu adalah momentum untuk melihat keperkasaan Allah. Allah mengintervensi kehidupan manusia selama manusia berada di jalan Allah dan mengikhtiarkan sesuatu yang benar-benar mengharap ridha Allah total tidak berkehendak atau tidak tergantung selain Allah.

“Jika kita bersedekah, ternyata itu yang mengundang intervensi Allah lebih cepat lagi,” terang Mulyadi.

20 Tahun lebih berlalu, kini Mulyadi membangun Sultan Islamic City Center di tempat kelahirannya, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dia saat ini memiliki lebih dari 40 santri yang setiap hari diberi fasilitas, sekolah, makan dan uang saku gratis.

Setiap hari Jumat, ribuan jamaah datang ke rumah Mulyadi. Di sana ada tausiah yang diberikan oleh para kiai. Bahkan, setiap tahun, Mulyadi memberikan umroh gratis kepada para jamaah yang paling rajin hadir untuk mengikuti pengajian.

Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 4 =

Back To Top